~9 Cerita Jika: Jika Istrimu Seorang Psikolog

Psychologist
Psikologi adalah bidang keilmuan yang saya pelajari sekarang. Spesifiknya, saya mempelajari psikologi pendidikan antop anak. Saya belajar memahami kejiwaan individu secara keseluruhan, baik itu bayi, anak, remaja, dewasa, dan orangtua yang dikaitkan dengan pendidikan. Namun, saya juga lebih fokus untuk mengaji perihal anak. Usia prenatal (ketika di dalam kandungan atau konsepsi) hingga usia SMP kelas 7-8. 

Dari sebuah tumblr, saya sedikit menarik senyuman tentang catatan di bawah ini... yaaa ini mungkin untuk siapapun yang nantinya mempunyai istri seorang psikolog.

Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu, keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku akan setia belajar.

Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif, afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung,  bad mooddown, kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku, meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.

Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi. Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang, perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku. Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang menyisakan unfinish business  dan memberi bekas padaku hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami? Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin klien yang  tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki. Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog?  Maka tolong bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu mengingatkanku.

Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi, sosial dan intelektual.  Bolehkah aku menjadi guru utama anak-anak kita? Maksudku, mungkin ini sedikit ekstrim. Bolehkan anak-anak kita sekolah di rumah saja? Bersamaku? Jika nanti anak-anak kita berontak dan ingin bersekolah bersama teman-temannya, bisa kita pertimbangkan bukan untuk menyerahkan seluruh perkembangan anak ke lembaga sekolah, tapi hanya untuk perkembangan sosial saja. Aku tidak terlalu berhasrat memiliki anak brilian. Sorry for that. Aku sangat berhasrat agar anak kita memiliki kematangan emosi dan pertimbangan moral yang baik. Aku sudah mempelajari caranya, itu bisa dilatih. Tentu dengan dukungan dan restumu. Jika nanti anak kita tumbuh brilian, itu adalah bonus dari Allah.

Jika kamu menemukanku sebagai isterimu, ketika kita memiliki anak-anak kecil dan remaja, bolehkan kita tinggal di pinggir kota saja? Tidak masalah tinggal di tempat seperti apa. Kota, bagiku tidak baik untuk perkembangan sosial anak kita.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu, aku ingin kita selalu memiliki waktu, untuk saling memeluk dan diam untuk beberapa saat. Agar aku selalu merasakan keberadaanmu, kaupun selalu merasakan keberadaanku. Dan merasakan detak jantung kita menjadi satu.

Psikolog juga manusia..
Salam hangat dari saya :)


You Might Also Like

22 comments

  1. Kapten... Dengerin itu yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengerin dan tiba-tiba pusing. Haha...

      Hapus
    2. Kasih surabi +pepes dicampur kuah air holecin biar neg tambah pusing sekalian hehe...

      Hapus
    3. kasih iakn peda goreng, sambal, dan sayur aseeem.
      aku ngileeer O~O

      Hapus
  2. karena cinta,
    kerja menunggu nyata...

    #Serius

    BalasHapus
  3. Masya Allah.. aku juga mau jadi psikolog.. ^__^
    Eh tapi kak, kata beberapa temanku, menpelajari psikologi sebenarnya tidak semenyenangkan yang aku pikirkan, apa benar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap hal punya dua sisi... selalu begitu kak.
      Sejauh ini, menyenangkan saja. tugas-tugasnya saja sering tidak terlalu rasional #curhat
      hehe

      Hapus
  4. lalu bagaimana ya kalau saya nanti bilang sama calon istri saya,
    suatu hari nanti kalau saya jadi suamimu bagaimana kalau kita berhenti tentang memhamimu, mendukungmu, dan lain2 yang hanya untukmu istriku, karena yang paling awal harus dilakukan adalah kesepakatan, maukah kau juga melakukan hal yang sama soal mendukung dan segala macam tetekbengeknya untukku, karena 100% yang sempurna adalah 50:50 jadi kalau kita tidak melakukannya bersama dengan usaha yang sama besar seimbang lebih baik kita akhiri omong kosong ini, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga calon istri abang mengerti :P

      Hapus
  5. baru tahu,.. ternyata kakak ini adalah psikolog ya..

    hidup darah ungu!!
    psikolog juga manusia, dokter juga manusia yang juga boleh sakit..

    sip, salam kenal..
    oh iya, selamat ya telah menang GA untuk "sehari tanpa gadget" sebagai pemenang tulisan terbaik.. selamat ya,. dan selamat.. aku catat tuh tanggal, tepat tanggal 07 desember 2013. sekali lagi, selamat... keep spirit for blog for give the best at life.

    BalasHapus
    Balasan
    1. darahku masih merah. ehehe

      terima kasih kak Aghaa... alhamdulillah jadi peserta paling innovatif. :)

      Hapus
  6. mengena banget nih ka kata-katanya :)

    BalasHapus
  7. benar kiranya kalau kota memang memiliki sisi tidak baik bagi tumbuh kembang anak. tapi nggak melulu seperti itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sisi baik dan sisi buruk. Setiap tempat punya itu, tapi lebih baik memilih yang sisi baiknya lebih banyak ya, kan?

      Hapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. izin share yah :) bagus sekali infonya.. :)

    BalasHapus