Elkind : Karakteristik Ketidakdewasaan Pikiran Remaja

 بسم الله الرحمن الرحيم
Kita telah melihat bagaimana anak berkembang dari makhluk egosentris dengan rentan ketertarikan tidak lebih dari puting susu ibunya kepada sosok person yang mampu memecahkan masalah abstrak dan membayangkan masyarakat yang ideal. Walaupun demikian, dalam bebereapa hal pemikiran remaja maasih terlihat kurang matang. Mereka mungkin kasar kepada orang dewasa, memiliki kesulitan untuk menyusun fikiran mereka tengtang apa yang hendak dipakainya tiap hari, dan mereka sering kali bertindak seolah dunia mengelilingi mereka.

Merujuk kepada psikologi David Elkind (1984,1998), perilaku seperti itu bersumber dari usaha remaja yang belum berpengalaman untuk masuk ke dalam fikiran formal. Cara berfikir baru ini, yang secara fundamental mengubah cara mereka melihat diri sendiri dan dunia mereka, tidak akrab dengan diri mereka sendiri seperti tubuh mereka yang berubah bentuk, mereka terkadang janggal dalam menggunakannya. Ketika mencoba kekuatan baru mereka, mereka terkadang tersandung seperti seorang bayi yang belajar berjalan.


Menurut Elkind, fikiran yang belum matang ini memanifestasikan dirinya sendiri ke dalam, paling tidak, enam karakteristik :

1.    Idealisme dan kekritisan. Ketika para remaja memimpikan dunia yang ideal, mereka menyadari betapa jauhnya mereka dengan dunia nyata, dimana mereka memegang tanggungjawab orang dewasa, mereka menjadi sangat sadar akan kemunafikan (hipocrisy) dan dengan penalaran verbal  mereka yang semakin tajam, mereka menyukai majalah dan entertainer yang menyerang figur publik dengan kata-kata satire dan prodi. Mereka yakin bahwa mereka lebih mengetahui bagaimana menjalankan dunia ketimbang orang dewasa dan mereka sering kali mengkritik orangtua mereka.

2.    Argumentativitas. Para remaja senantiasa mencari kesempatan untuk mencoba atau menunjukkan kemampuan penalaran formal baru mereka. Mereka menjadi argumentatif ketika mereka menyusun fakta dan logika untuk mencari alasan, misalnya berdagang.


3.    Ragu-ragu. Para remaja dalam menyimpan berbagai alternatif dalam fikiran mereka pada waktu yang sama, tetapi karena kurangnya pengalaman, mereka kekurangan strategi efektif untuk memilih. Karena itu, mereka mungkin memiliki masalah dalam menyatukan akan dipakai.

4.    Menunjukkan hipocrisy. Remaja seringkali tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan sesuatu yang ideal dan membuat pengorbanan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Dalam sebuah contoh yang diberikan Elkind (1998), para remaja yang peduli dengan kessejahteraan hewan berdemonstrasi di depan toko pakaian bulu, tetapi mereka menunggu musim panas untuk melakukannya__ agar terhindar dari berdiri di luar dengan mantel dan udara yang membeku. Bagi pengamat orang dewasa, tindakan ini seperti bersifat hipokrit, akan tetapi anak muda yang bersungguh-sungguh ini sebenarnya tidak dapat membedakan antara perilaku mereka dan kondisi ideal yang mereka suarakan.


5.    Kesadaran diri. Para remaja sekarang dapat berfikir mengenai pemikiran__ pemikiran mereka sendiri dan oranglain. Akan tetapi dalam keasyikan mereka akan kondisi mental mereka, para remaja seringkali berasumsi bahwa yang difikirkan oranglain sama dengan yang difikirkan mereka yaitu diri mereka sendiri. Seorang gadis remaja bisa dipermalukan apabila ia memakai baju yang salah untuk menghadiri pesta dan karena ia berfikir demikian maka oranglain tampak mencurigakan baginya. Elkind merujuk kondisi kesadaran diri ini sebagai imaginary audience, “pengamat yang terkonseptualisasi yang berkaitan dengan fikiran dan perilaku mereka. Menurut Elkind, imaginary audience amat kuat pada remaja diri tetapi kemudianmenurun pada kehidupan orang dewasa. Kondisi tersebut dapat muncul ketka misalnya seseorang menjatuhkan garpu di lantai keramik restoran yang penuh dengan orang dan berimajinasi semua orang melihat ke arahnya.

6.    Kekhususan dan ketangguhan. Elkind menggunakan istilah personal fable untuk menunjuka keyakinan para remaja bahwa ia spesial, bahwa pengalaman mereka unik dan mereka tidak tunduk pada peraturan yang mengatur dunia. Menurut Elkind, bentuk egosentrisme khusus ini mendasari perilaku self destructive dan beresiko. Seperti imaginary audience, personal fable terus berlanjut hingga masa dewasa. Tanpa keyakinan seperti itu, orang-orang akan menjadi pertapa, membentengi diri mereka sendiri secara konstan dari bahaya sesungguhnya dalam kehidupan kontemporer.

Sumber : Human Development - Diane E Papalia, Sally Wendkos Old and Ruth Duskin Feldman

You Might Also Like

2 comments