Cerita Ramadhan #9: Berbuka Bersama Adik

ilustrasi dari sini
Cerita ramadhan kesepuluh ini adalah cerita tentang saya dan adik saya. Menghabiskan waktu di rumah adalah hal yang menyenangkan. Apalagi kalau adik tidak sekolah alias libur. Kami bisa melakukan banyak hal bersama. Nah, Pada hari kesembilan, hari Minggu kemarin. Adik saya tidak pergi bermain. Setelah mengaji malah tidur-tiduran di ruang tivi. Setelah melalukan sesuatu, saya juga bergabung bersama dia. Kami mulai berebut remot tivi untuk mengganti chanel. Pada akhirnya kami sepakat untuk menonton satu acara kuliner.

"Laziiess!!!" Itu kata unik yang diucapkan pembawa acaranya. Saya dan adik saya benar-benar terhibur dengan acara itu. tiba-tiba adik saya berkata, "Aaaaaah! Ngga kuaaat! Ngga kuaaaat!"
Setelah ditanya kenapa dia menjawab kalau ternyata dia tidak kuat dengan segala jenis makanan yang ditampilkan di acara tersebut. Dia ingin makan #waduh.

"Teh, buka bersama yuk!" Rengek dia. Saya bilang kalau tiap hari kita buka bersama, tapi dia protes. Bukan itu yang di maksud. Saya sebenarnya mengerti, sampai akhirnya pergilah kami di sore yang cerah itu.

Jam empat sore kami sudah berada di sebuah tempat makan. Hanya berdua. Dan masih kosong #yaiya. Adik saya menunjuk ke tempat pusat bermain untuk menunggu berbuka, dan saya-pun setuju. Akhirnya kami beraktifitas kembali. Bermain-main. Bermain-main. Ketika kembali ke tempat makan, kami tidak kebagian tempat. #astagfirulloh.

Akhirnya kami keluar dari sana, berjalan menuju tempat makan yang baru. Penuh juga. Berjalan lagi. Dan akhirnya ada satu tempat makan yang lumayan kosong. Kami langsung duduk, melirik menu dan memesan. Cerita makannya disingkat, pokoknya adik saya kekenyangan alias 'kamerkaan'.

Saya menelpon ayah untuk dijemput. Ayah bilang sudah dimesjid, pulang sendiri saja. Oke, saya mengajak adik saya berjalan. Tapi dia merengek. "Teteh, sakit perutna." rupanya dia terserang kalikiben. Karena dia hampir menangis, saya memanggil becak. Kami naik becak sepanjang perjalanan menuju terminal. Ini pengalaman pertama kali adik saya naik becak, malam-malam pula. Benar-benar menyenangkan dan sejuk.

Setelah dirumah, adik saya langsung tak sadarkan diri. Adik saya tertidur pulas, hingga saat sahur dia malu-malu karena semalam sudah benar-benar merepotkan. Saya tertawa saja karena saya punya cerita baru untuk mengejek dia. Cerita tentang dia yang kekenyangan.

You Might Also Like

5 comments