Segelas Kebahagiaan

Mesjid Al-Murabbi Karang Setra. Foto: Koleksi Pribadi


Karena setiap harinya, kita membutuhkan 9 gelas asupan. 8 gelas air dalam bentuk apapun, dan segelas kebahagiaan. -Pita


Mobil baru saja terparkir rapi di pelataran. Aku keluar dengan kaki kanan terlebih dahulu, lalu menyapa dua orang anak perempuan cantik berkerudung yang sedang berdiri di teras. Aku tersenyum, sahabatku juga. Oia, aku bersama seorang sahabat. Sebenarnya tiga orang, hanya saja kehidupan kami terlalu kontradiktif untuk berjalan bersama di sini. Hingga kami harus berpisah. Walau pada akhirnya, kami yakin akan bertemu lagi.

Aku menanyakan sebuah tujuan pada dua anak perempuan tadi. Mereka langsung menunjukkan kami kepada satu arah. Kami menuruti petunjuk mereka. Dan tumpah ruahlah air. Kami mengusapkannya ke beberapa bagian dari tubuh fana ini. Rasanya seperti menikmati kuyup dalam hujan dipagi hari. Beberapa menit kemudian, selesailah ritual kami.

Belum tuntas. Kami mulai berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Modernitas sudah tercium di sini, juga kebersihan dan kerapiannya. Bersemangat sekali kami mengangkat kaki. Mungkin karena hari ini penuh dengan gelak tawa dan romansa persahabatan yang tidak disangka. 

Beberapa meter sebelum mencapai pintu besar berwarna coklat yang bercampur dengan warna-warna emas, kami berhenti. Sepertinya bukan hanya aku yang merasa gelap pengetahuan, sahabatku juga demikian. Aku mencoba melakukan percakapan tanpa suara kepada seorang ibu yang duduk diurutan paling belakang. Beliau berkata bahwa kami harus memutar. Akhirnya, kami turun tangga lagi.

Turun tangga.

Berjalan menuju gedung lain.

Naik tangga.

Turun tangga.

Berjalan menuju gedung lain.

Melewati aula.

Memutari aula.

Hingga pada akhirnya, kami berujung pada suatu keputusan. “Sudahi, di sini saja.” Ucapku. Kami berdiri bersisian kemudian, lalu berdo’a. Ruku dan sujud kami benar-benar penuh perjuangan kali ini.

Selepas salam mengudara dari mulut kami berdua. Juga selepas saling menempelkan pipi satu sama lain. Pecahlah gelak tawa. Tak akan ada yang tahu selain kami, juga Sang Maha. Dan rinai-rinai kebahagiaan itu masih menggelembung hingga kami menutup mobil dari dalam.

You Might Also Like

24 comments

  1. Karena setiap harinya, kita membutuhkan 9 gelas asupan. 8 gelas air dalam bentuk apapun, dan segelas kebahagiaan.

    subhanallah *senyum*

    BalasHapus
  2. cerita terkenal dari timur tengah tentang seorang sufi wanita yang setiap hari hanya menangis.. menangis akan kerinduannya kepada Alloh.. ada hikmah yang saya ambil, bahwasanya dunia bukan lah tempat mencari kebahagiaan, juga bukan tempat untuk harus mendapat kebahagiaan, tapi tempat untuk beribadah sampai perjumpaan dengan-Nya kelak.. (saya yakin mbak pita pasti tau surat apa ayat brapa yang mendasari tujuan hidup manusia)

    ketika saya baca kutipan di awal tulisan mbak pita, sebagai orang awam saya pasti lsg berfikir bahwa saya harus mendapat kebahagiaan, menurut saya kalimatnya kurang pas.. dan smoga orang yang mmbaca kutipan itu tidak langsung menelannya mentah2, tp dicerna terlebih dahulu..

    hanya Alloh sumber segala kebenaran, sebagai manusia saya selalu terbuka untuk menerima kritik jika ada kesalahan kalimat dalam komentar, semoga saya dijauhkan dari rasa tidak mau mendengar nasehat orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak salah menurut saya dengan kalimat pembukanya, mas. Bahkan, seyogyanya kita memang seharusnya di dunia ini berbahagia. Kita butuh itu. Benar memang, bahagia tidak lah abadi. Suatu masa kita pernah bersedih juga. Tapi, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

      Lantas, karena kita tidak selalu berbahagia. Maka bersyukur lah atas anugerah Allah pada kita. Jika untuk bahagia kita memerlukan alasan, maka syukur tak selalu meminta (alasan).

      Hapus
    2. Sea Turtle: Wah mas, berarti tulisanku masih sulit dimengerti pembaca nih ^_^ terima kasih lho sudah mengingatkan.

      Kalau tentang kutipan, di dunia ini memang tidak ada kebahagiaan yang hakiki. maka dari itu, kita (saya) hanya membutuhkana segelas kebahagiaan. Terima kasih ya :)


      Hapus
    3. Kang Aan:
      Haih. Benar salah menurut manusia itu memang relatif. Tapi saya setuju dengan, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan. Sepatutnya kita berbahagia, sebagai salah satu bentuk syukur kita.

      Hapus
  3. Bolehkah kau tuang barang seteguk isi cangkir bahagia itu ke cawan ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kak Zie. Haus banget ya? :D

      Hapus
  4. Kira kira aku berapa gelas yah, suka lupa di hitung -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak usah dihitung juga ngga papa kak Irfan.. diperkirakan saja coba

      Hapus
  5. aish.. romatisnya... #kami :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyap teh. #kami
      aku dan dia...
      coba tebak siapa? ;)

      Hapus
  6. wah Pita pinter banget bikin orang berimaginasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi penasaran. Bagaimana ya bentuk imajinasinya mas Insan #eh

      Hapus
  7. Haih.... berdecak... pengen banget jadi bagian cerita ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haih haih kang, di #aminkansaja #pakehati

      Hapus
  8. Ceritanya lagi di masjid ya..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kak.
      di mesjid saja kami tersesat :)

      Hapus
  9. Hebat nulisnya sungguh mahir, di tunggu kunjungan bliknya di "Karya Kuring Haratis"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haih. Terima kasih kak.
      tunggu ya... segera menuju ke sana :)

      Hapus
  10. aku bingung, kalian hendak sholat di masjid atau sedang menghadiri walimahan? :D

    BalasHapus