Jangan Sampai Membeli Sebotol Udara !!

Bismillahirrahmanirrahim
Tanpa sengaja, sore tadi saya membuka file-file berbentuk dokumen yang saya simpan di si chimoot (nama laptop saya). Dan senangnya saya menemukan dokumen “Buletin Sekolah” yang saya dan rekan-rekan seperjuangan OSIS dulu buat dimasa jabatan saya ^^v, maklum, dulu kan saya juga jadi ketua OSIS sekaligus Pemimpin Redaksi Buletin “Aksi Netrisi”. Ah jadi sombong :p

Dibuletin edisi kedua ada artikel dari salah satu guru SMP saya yang bernama Ai Nurhayati. Beliau adalah guru favorit saya, guru mata pelajaran Geografi. Beliau adalah satu-satunya yang memberi nilai 10+ (sepulus plus) di kertas ulangan saya :D. Bangganya waktu itu. Hmm.

Nah, ini dia artikel, karya asli beliau yang tidak saya edit satupun.

Renungan Tentang WC
Oleh AI Nurhayati

Ada satu kenangan yang tak terlupakan ketika kami (guru-guru SMP Negeri 3) ke Bali, yaitu WC.

Selama perjalanan dari Sukabumi menuju Bali ±15 kali perorang pergi ke kamar kecil alias WC. Bayangkan untuk satu kali ke WC perorang harus membayar Rp. 1.000,- kali 40 peserta kali 15 diperoleh jumlah uang yang lumayan. (Rp. 1.000,- x 40 x 15 = Rp 600.000.-) kalau bolak-balik tinggal kali 2 = Rp 1.200.000,- Fantastis ! cukup beli beras ±300 kg.

Memang secara individu nggak begitu keberatan untuk membayar sekali pipis Rp 1.000,- (daripada ngompol). Tetapi jika dilihat dari kaca ekonomi uang Rp 1.200.000,- sangat berharga. Muncul pertanyaan : Kira-kira mengapa yah untuk “buang hajat” dinegeri yang kaya Sumber Daya Alam ini harus bayar ?

Saya mencoba mengira-ngira kemungkinan jawabannya (maaf, walaupun belum dilakukan penelitian secara ilmiah):
  1. Setelah terjadi krisis ekonomi tahun 1997 kemudian berimbas pada sulitnya mencari pekerjaan. Orang-orang semakin kreatif untuk mencari uang. Karena WC merupakan kebutuhan vital, akhirnya bisa menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. 
  2. WC umum yang letaknya strategis, apa itu dipasar, terminal, rumah makan, atau dijalan-jalan. Setelah dikomersialkan nilai ekonominya lumayan. Saya pernah iseng-iseng bertanya ke penjaga WC dipasar Cisaat, perhari pendapatannya antara Rp 100.000,- sampai Rp 200.000,- Coba kalau sebulan ???
  3. Akibat kurang kepedulian terhadap lingkungan hidup! Misalnya penebangan liar, lahan hijau menjadi lahan beton, banyaknya lahan kritis, kebakaran hutan, dll. Akibatnya persediaan air tanah semakin berkurang, maka air bersih menjadi barang berharga apalagi pada musim kemarau. Jadi orang nggak bisa gratis untuk sekedar membuang pipis (kecuali di rumah, WC sekolah, atau sembarang tempat)
  4. Dari kaca mata sosiologis, sebagian orang Indonesia kurang bisa memelihara fasilitas umum, seperti telepon umum (dulu) yang sering dirusak atau dicuri, tembok-tembok dipinggir jalan yang jadi sasaran vandalisme, jadi WC umum yang asalnya gratis, karena perlu pemeliharaan dan pengamanan yang ekstra, perlu biaya. Akibatnya ? konsumen mesti bayar !

Dari soal WC kok masalahnya sampai sejauh itu ??

Coba kita amati kejadian sekarang akibat kecerobohan dan keteledoran bangsa kita, berapa ribu hektar hutan terbakar ? akibatnya kita mengespor asap ke negeri tetangga.

Pesan terakhir : Yuk kita jaga lingkungan sekitar kita dari pencemaran (udara,air,tanah) agar suatu hari nanti kita tidak usah membeli sebotol udara segar.
Wallahu a’lam.

You Might Also Like

0 comments