![]() |
| Sagrada Familia, belum punya akhir. |
Masih pagi, tapi dia sudah berjalan ke tengah kota. Melewati
beberapa taman dan air mancur. Hiruk pikuk belum terasa benar. Hanya beberapa langkah
manusia membuka kedai-kedai mereka. Dia berjalan pelan sambil membenarkan
kancing baju hangat warna biru tuanya. Sudah sampai, dia berdiri di depan
sebuah bangunan.
Sebuah gedung berwarna abu-abu tua ini menjulang. Menaranya
terhitung delapan dengan bulatan tumpul disetiap ujungnya. Dia belum punya akhir.
Meski 40 tahun sudah, namun masih saja belum tuntas. ... Sagrada Familia.
Dia. Seorang perempuan, dan dia. Sebuah gereja katholik
raksasa. Satu yang sama. Belum tuntas kisah mereka. Gereja itu, Sagrada Familia.. belum juga berakhir
penciptaannya. Antonio Gaudi meninggalkannya. Dan perempuan itu, Aretha.. belum
juga berakhir penantiannya. Seseorang telah membuatnya menjadi seorang penunggu
sejati.
Setelah mendapatkan tempat duduk tepat di depan pintu
gerbang sagrada, dia membuka tas
kecilnya. Tersentuhlah tortilla de
patatas yang masih panas terbungkus kertas. Beberapa saat ia memperhatikan
dalam makanan itu. Sebuah pesan tertulis pada kertas pembungkusnya: “Selamat
menikmati sarapan”.
Sejak semalam, jetlag
masih mengerumuni seluruh tubuhnya. Terlambat makan malam, minum soda, dan
tidak tidur sampai saat ini. Hanya saja, dia masih sadar untuk duduk di sini
dan menunggu seseorang. Entah kapan akan datang.
Sebelum keluar dari hotel, seorang pelayan membekalinya
sebungkus tortilla. Sekarang sedang
ia lahap. Kentangya, empuk sekali. Lambat laun, meskipun tengah mengunyah, dia
melamun. Ini adalah kebiasaan barunya sejak sepuluh tahun yang lalu. Tak ada
yang memperhatikannya, kecuali sang Sagrada.
Aretha, perempuan bermata coklat di Barcelona.
Sagrada Familia, belum punya akhir. Masih pagi, tapi dia sudah berjalan ke tengah kota. Melewati beberapa taman dan air mancur. Hiruk p...
