![]() |
| Menyemai Cinta |
Bagiku, masa depan adalah milik Penciptaku. Dia berhak
atas itu karena keMahaanNya. Pun salah satunya tentang dengan kapan dan dengan
siapa aku mengukuhkan dien. Rasanya
penasaran sekali, namun tentu harus menunggu dengan anggun sambil mulai menyemaikan
bibit cinta pada sebuah tanah datar bernama hati.
Aku meyakini bahwa menyemai cinta tak perlu terburu-buru. Membaca musim dan
angin kemana ia berhembus akan dirasa perlu. Karena, bibit yang disemai tak
selamanya akan bertumbuh jika musim tak menyambut dan angin tak menggetarkan
bibit yang disemai satu.
Layaknya kisah cinta suci Saidatina Fatimah dan Saidini ‘Ali.
Keduanya menyemai cinta pada tanah datar yang tepat. Mereka suburkan dengan
munajat dan tengadah do’a. Mereka tak saling mengabarkan, namun akhirnya Allah
pertemukan jua. Sesungguhnya mereka yang mencintai dengan cara itu sedang berjihad.
Berjihad menjadi penyemai yang disukai Dia.
Aku ingin berjihad juga. Karena sekarang aku sudah menyemai satu cinta. Tinggal kusuburkan hingga akhirnya tiba. Berharap bahwa dia juga mengutarakan pinta yang sama, kepada Dia dalam tiap sepertiga malam dunia.
Di masa depan. Jika dia telah datang. Tanah
datar bernama hati akan dirimbuni dahan-dahan kokoh kesetiaan, juga daun-daun
kasih yang semakin menghijau. Berguguranlah dedaunan kuning kelelahan, juga
rasa cemas. Karena selamanya, tanah datar akan terus subur dan hijau. Hingga
Dia pindahkan ke telaga Kautsar.
Semailah cinta. Dan suburkanlah :)
Menyemai Cinta Bagiku, masa depan adalah milik Penciptaku. Dia berhak atas itu karena keMahaanNya. Pun salah satunya tentang denga...

.jpg)
