![]() |
| Cahaya seakan membelah danau, melipat kabut pagi. |
Pagi
turun perlahan dari puncak wayang. Setapak di bawahnya diam berselimut dingin.
Kali ini matahari terlambat. Binar-binarnya tak terlihat menguning di balik hutan-hutan
pinus. Semalam, hujan turun tak berujung hingga suara jangkrik mengering.
Rerumputan di sekitar tenda masih basah melembab, meninggalkan jejak pada
setiap langkah kaku menuju danau.
Malam
tadi, tak kuasa raga beranjak dari kantung tidur. Setiap sela-sela zipper tenda
tertutup rapat, mengunci udara dari dalam. Malam kedua setelah satu malam yang
memukau di puncak Wayang. Malam tadi kami terpulaskan di bibir danau selepas
angin sore meredup berganti hujan rintik yang menderas.
Cisanti,
hulu Citarum yang tak mempertontonkan kuasanya. Jauh di sana, sering kulihat
alunan sungai membesar dengan air tak terbendung. Diperbatasan Bandung dan
Cianjur. Bahkan membanjiri sebagian tanah rendah di kota sana. Di sini,
yang ada hanya ketenangan. Tujuh mata air seakan bungkam tentang berjuta-juta
kubik yang mereka muntahkan. Mereka hanya mengalunkan keindahan. Memesona mata
yang melihat keanggunan tarian gelombangnya.
Inginnya
kutelusuri. Dari mana muasal Citarum menjadi cemar. Di hulu sini, air teramat
cantik membening. Danaunya memantulkan wajah-wajah sumringah sekawanan anak
manusia yang bersemangat.
Gunung
Wayang, Situ Cisanti. Mengenangmu tak perlu waktu. Bahkan aku telah menulismu
sebelum tinta-tinta mengotori kertas. Suatu hari, aku ingin kembali.
| Dari kiri: pita, Tanty, Iza, dan Rezko. dalam pendakian menuju puncak wayang. Foto: Koleksi Pribadi |
| Kami di puncak wayang. Hari kedua. Foto: Koleksi Pribadi |
| Hari ketiga di Situ Cisanti. Foto: Koleksi Pribadi |
Cahaya seakan membelah danau, melipat kabut pagi. Pagi turun perlahan dari puncak wayang. Setapak di bawahnya diam berselimut di...
