![]() |
| Going the extra miles |
A Fuadi, adalah seorang penulis
yang berhasil membuat saya terus bersemangat dan tertawa sendiri, mengangguk,
terharu, miris, kesal, dan berekspresi ketika membaca karyanya.
Karya-karyanya yang terus
saya baca adalah Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna, dan Rantau Satu Muara. Buku
trilogi ini sudah berkali-kali saya baca, dan benar-benar selalu menggugah.
Sepertinya saya sudah hafal di mana suatu dialog diucapkan dan pada bagian mana plot ini
diceritakan. Ya, mungkin saking seringnya membaca.
Satu quote, yang paling berkesan di dalam trilogi ini adalah persis
seperti judul tulisan ini: going the
extra miles. Bahwa dalam hidup, untuk mencapai suatu kesuksesan atau
keberhasilan, sebenarnya kita tidak perlu menggunakan seluruh kekuatan kita,
atau mengorbankan apa yang kita punya. Semuanya. Tidak.
Oia, sebenarnya going the extra miles ini diceritakan
dalam semua buku A Fuadi ini. Hanya saja, yang paling menjelaskan lebih detail
ada di buku pertama. Negeri Lima Menara. Berikut kutipannya,
![]() |
| Trilogi Negeri Lima Menara |
“Akhi, tahukah kalian apa yang
membuat orang sukses berbeda dengan orang biasa?, Menurut buku yang saya baca,
ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah
dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam , dia akan belajar 5 jam. Kalau
orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke
10 ,dia tidak akan menyerah sampai di detik 20. Karena itu mari kita budayakan
Going the extra Miles, lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari
orang lain. Maka kalian akan sukses”, Petuah Ustad Salman.
Negeri Lima Menara,
bercerita tentang Fikri sang tokoh utama, dan lika-liku kehidupan pondoknya
bersama Raja, Said, Tatang, Dulmajid, dan Baso. Banyak sekali momen-momen
mengesankan dari mereka yang menginspirasi. Mungkin karena saya kenal betul
dengan setting bukunya, yaitu di
Pondok Modern Gontor—di dalam buku disebut sebagai Pondok Madani—Paman saya pernah mondok di sana, dan semua yang ditulis Fuadi memang begitu nyatanya.
Going the extra miles, yang perlu dilakukan adalah berusaha sedikit lebih banyak
dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh oranglain. Dalam bab-bab terakhir, ketika
menjelang ujian akhir, kata-kata ini dikumandangkan oleh Ustadz Salman. Para juara lari, katanya
tak perlu lebih jauh berpuluh-puluh kilometer untuk menjadi juara. Cukup
sepersekian meter saja. Tidak banyak.
Begitu juga kita. Sukses
memang berbeda definisi untuk setiap individu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa
kesuksesan seseorang tidak dapat dibandingkan dengan kesuksesan oranglain. Ya,
sama seperti tidak boleh membandingkan kelebihan oranglain dengan kelemahan
kita. Not fair. Ya.. saya berpikir
demikian.
Tapi, jika ingin menjadi
seseorang yang berbeda. Seseorang yang sukses ketika semua orang juga diberikan
sumber daya yang sama dengan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah going the extra miles.
Ketika oranglain tidur
delapan jam, cobalah untuk tidur lebih sedikit dari mereka, tujuh jam setengah
misalnya. Lalu kita gunakan setengah jam itu untuk membaca, atau belajar, atau
melakukan sesuatu yang bermanfaat. Maka, tentu saja kita akan mendapatkan
sesuatu yang tidak didapatkan orang-orang yang tidur delapan jam!
Begitulah kesuksesan. Didapatkan
ketika kita berjuang lebih sedikit saja dari yang oranglain lakukan. Saajtahidu fauqa mustawa al akhar, bahwa
saya akan berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oranglain.
Jadi, kapan kita akan going the extra miles??
Salam hangat dari saya :)
Going the extra miles A Fuadi , adalah seorang penulis yang berhasil membuat saya terus bersemangat dan tertawa sendiri, mengangguk, te...


.jpg)