![]() |
| ketika kami sudah tak berjarak lagi |
Banyak
cerita sudah tertulis tentang cinta. Tentang dia yang jatuh cinta kepada
seseorang yang menurutnya mengagumkan. Tentang dia yang mengadakan perjalanan
untuk menemukan cinta. Tentang dia yang mengutuk diri karena pencampakan.
Tentang dia yang memutuskan hidup sendiri lalu membenci cinta.
Bagaimanapun
bentuknya, pada akhirnya kita memang benar-benar akan menemukan cinta. Dan cinta
selalu menunjukkan kita kepada pintu-pintu kebahagiaan. Setelah melewati satu
pintu, kita akan ditunjukkan pintu-pintu lain. Entah dengan cara menyenangkan
atau malah membuat kita tersungkur, walau begitu yakinlah bahwa cinta tak
pernah ingin membuat kita terluka.
Kali
ini, aku menuliskan tentang cerita cinta dia yang kemudian beririsan dengan
cintaku. Tak terlalu lama kami saling bersapa, dia sudah mengaitkan ujung
benang hatinya dihatiku. Benang itu terikat kuat tapi kalian takkan melihatnya,
karena benang itu hanya terlihat oleh dua hati yang saling mencinta karena
Tuhan mereka.
Aku
merasa sesak, tapi sesak yang menyenangkan. Kau juga akan merasakannya jika
mendengar orang yang kau cintai mengudarakan akad. Lalu sepersekian detik
terdengar suara, “sah”. Aku mau bilang apa selain terus berterima kasih atas
semua berkah ini..
Dan
aku, gugup sekali. Tanggal 3 Mei lalu, aku telah didukung semesta menjadi
seorang istri. Do’a-do’a seakan menggumpal menjadi awan menuju langit, lalu
kembali ke bumi dengan bentuk rintikan kebahagiaan.
| paman terbaik yang selalu mendukung |
| Bersama sahabat-sabahat |
| kebahagian itu terus mengguyur ketika dibagikan |
| bersama Mas Amal, salah satu sahabat terbaik |
ketika kami sudah tak berjarak lagi Banyak cerita sudah tertulis tentang cinta. Tentang dia yang jatuh cinta kepada seseorang yang...

